Tegtitan’s Weblog

Tegtitan Community for All in Earth

Pendidikan Rekayasa Perangkat Lunak

Pada paparan tentang pendidikan rekayasa perangkat lunak ini saya membicarakan tentang kata informatika, usulan nama untuk pendidikan perangkat lunak, kaitan pendidikan perangkat lunak dengan industri perangkat lunak, keanehan industri perangkat lunak, dan mitos-mitos pendidikan “Informatika”. Benang merah yang mengaitkan semua subtopik di atas adalah bahwa kurikulum dan praktik pendidikan perangkat lunak di Indonesia sampai saat ini tidak membuat alumninya lebih baik daripada orang otodidak.
Kata “Informatika”Sampai saat ini, tidak ada jurusan pendidikan setingkat D3 atau S1 yang memakai kata “Perangkat Lunak”. Di Indonesia, hampir semua jurusan pendidikan perangkat lunak memakai kata Informatika. Pemakaian kata Informatika sebagai nama (atau bagian dari nama) bidang studi saja sudah menimbulkan masalah. Kata “Informatic” atau “Informatics” tidak ada dalam kamus Webster (tahun 1996, tahun-tahun berikutnya belum saya periksa). Kata “Informatika” muncul di begitu banyak jurusan karena latah mengikuti jurusan yang didirikan di ITB tahun 1981, yakni “Teknik Informatika”. ITB pada waktu itu memakai kata tersebut karena mengikuti Prancis yang memakai kata “Informatique”. UI (Universitas Indonesia) enggan mengikuti ITB, dan pada tahun 1986 mendirikan jurusan “Ilmu Komputer”.
Frasa “Ilmu Komputer” (banyak sekolah di luar negeri memakai frasa “Computer Science”, dan sebagian kecil memakai frasa “Computing Science” yang lebih tepat) selangkah lebih maju daripada kata “Informatika”. Frasa ‘Ilmu Komputer’ masih kurang bagus karena tidak eksplisit menunjuk fakta bahwa penekanannya adalah perangkat lunak komputer. Hal perangkat keras komputer konon menjadi penekanan di jurusan “Teknik Komputer”.
Nama yang Seharusnya: Rekayasa Perangkat LunakYa, seharusnya judul pendidikan dari berbagai jurusan yang memakai kata “Informatika” adalah Rekayasa Perangkat Lunak. Apa imbas dari keputusan ini?
Misi dan visi pendidikan akan lebih jelas. Keberhasilan pendidikan akan lebih mudah diukur. Staf sales dari lembaga pendidikan akan dapat menjual pendidikannya dengan lebih beretika.
Misi pendidikan jelas akan berupa menghasilkan alumni yang mampu merekayasa, membuat perangkat lunak skala besar. Visi pendidikan akan lebih jelas: menjadi lembaga pendidikan yang mampu menghasilkan alumni yang mampu merekayasa perangkat lunak. Keberhasilan pendidikan lebih mudah diukur: sanggupkah alumni membuat perangkat lunak skala besar secara berkelompok? Staf sales lebih beretika. Kalau ditanya, untuk apa masuk pendidikan rekayasa perangkat lunak, staf sales dapat menjawab bahwa calon mahasiswa perlu masuk pendidikan tersebut untuk dapat menjadi perekayasa perangkat lunak, yang lebih baik daripada orang-orang otodidak.
Keadaan Saat Ini dan Keunggulan terhadap OtodidakTidak satupun jurusan yang secara eksplisit mencantumkan nama Rekayasa Perangkat Lunak. Nama-nama jurusan yang akan kita temui berkisar pada Teknik Informatika, Teknik dan Manajemen Informatika, Manajemen Informatika, Informatika Akuntansi, Sistem Informasi, dan yang sejenisnya.
Kata informatika sangat tidak jelas maknanya. Sekarang ada yang mencoba membuat ilusi kebaruan dengan memberi nama telematika. Sebuah lembaga pendidikan di Bandung mengklaim dirinya sebagai lembaga pendidikan telematika. Seperti halnya informatika, telematika pun tidak jelas maknanya.
Tidak heran bila visi dan misi jurusan pendidikan-pendidikan ini juga tidak jelas. Kebanyakan dari lembaga pendidikan seperti ini akhirnya hanya mengandalkan fasilitas Internet, wireless network, perpustakaan, dan nama-nama orang tertentu sebagai daya tarik. Seperti itulah cara staf sales menjual lembaganya. Lembaga-lembaga ini tidak pernah mempersiapkan diri dalam memberi jawaban dan bukti bahwa mereka dapat membuat alumninya lebih baik daripada orang-orang otodidak. Saya ingat seorang mahasiswa pernah menanyakan hal tersebut saat masuk ke jurusan Informatika dari sebuah perguruan tinggi negeri. Jawaban yang diberikan sangat berbelit dan tidak memuaskan.
Keberadaan Industri RekayasaKita akan abaikan sejenak tentang keunggulan terhadap otodidak. Sekarang tentang keberadaan industri rekayasa. Adakah industri rekayasa perangkat lunak di Indonesia? Ada dan cukup banyak pelakunya. Jadi dalam hal ini industri rekayasa perangkat lunak berbeda dengan industri rekayasa perangkat keras.
Dengan adanya industri rekayasa perangkat lunak komputer, apakah ada alasan kuat untuk kehadiran pendidikan “informatika”? Jawaban singkatnya adalah ya, tetapi ya ini adalah ya bersyarat (qualifi ed yes). Kita hanya dapat melihat alasan tersebut dengan jernih sesudah kita memahami keanehan (anomali) rekayasa perangkat lunak.
Keanehan (Anomali) Industri Rekayasa Perangkat LunakSekarang kita kembali ke hal otodidak versus alumni pendidikan informatika. Bila diukur dari kriteria bahwa alumni pendidikan informatika dapat menjadi pelaku industri rekayasa perangkat lunak, maka memang alumni pendidikan informatika memang dapat menjadi pelakunya: menjadi perekayasa. Tetapi, industri rekayasa perangkat lunak adalah industri rekayasa yang aneh. Keanehan terletak pada kenyataan bahwa orang-orang tanpa latar belakang pendidikan informatika dapat menjadi pelaku teknis (bukan sekadar menjadi manajer) di bidang rekayasa tersebut.
Keanehan ini absen pada banyak disiplin rekayasa lain seperti rekayasa perangkat keras komputer, rekayasa kimia, rekayasa mesin, dan rekayasa fisika; bahkan pada beberapa bidang nonrekayasa seperti akuntansi, farmasi, hukum, dan kedokteran. Bila Anda tidak memiliki latar belakang pendidikan formal rekayasa kimia, Anda tidak mungkin menjadi pelaku rekayasa kimia secara teknis (katakanlah sebagai perancang struktur kimia dari bahan yang akan dipakai sebagai lapis luar pesawat ulang alik). Bila Anda tidak memiliki latar belakang teknis Anda mungkin dapat menjadi manajer di sebuah perusahaan rekayasa kimia, tapi tidak sebagai pelaku teknis.

Sumber : PCMedia

3 Maret, 2008 - Ditulis oleh tegtitan | Komputer | | No Comments Yet

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar