Tegtitan’s Weblog

Tegtitan Community for All in Earth

Ketika Kekerasan sudah menjadi budaya di Indonesia

Hari Rabu, 2 Juli 2008 sore saya melihat acara debat mahasiswa di TV One yang mengangkat tema Aksi Demo Anarkis oleh Mahasiswa. Disana dibagi antara group yang setuju (Pro) dengan aksi kekerasan dan yang tidak setuju (Kontra) dengan aksi demo kekerasan yang berujung tindakan anarkis. Memang acara ini tidak lebih adalah sebuah debat antara pihak PRO dan yang KONTRA. Tapi ini sudah mencerminkan bagaimana sebenarnya kondisi Demokrasi di Indonesia saat ini.

Ini adalah pendapat pribadi saya yang tidak mendukung pihak manapun. Hanya pendapat seorang masyarakat Indonesia yang sedih dengan situasi di Indonesia.

Pemerintahan SBY dan JK dengan persetujuan DPR beberapa waktu lalu telah menaikkan harga BBM untuk mengurangi beban Subsidi Pemerintah di sektor ini. Berbagai anggaran Departemen dikurangi bahkan hingga ke sektor pendidikan dan kesehatan. Hal ini menimbulkan berbagai reaksi dan aksi dari masyarakat dan mahasiswa. Dan saya setuju dengan hal ini. Pada era demokrasi ini masyarakat bebas menyampaikan pendapatnya. Terutama untuk mengkritik dan memberi saran pada pemerintah.

Yang jadi masalah adalah munculnya aksi-aksi demo yang berakhir dengan kekerasan. Polisi bentrok dengan mahasiswa, terjadi pembakaran terhadap aset-aset negara, perusakan dan penangkapan terhadap para aktivis. Saya tidak tahu apa yang terjadi di sana dan apa yang memulai, tapi yang lihat di TV adalah ada beberapa orang dari kalangan Pendemo (entah dari mahasiswa atau masyarakat karena memakai kaos biasa) membawa botol bensin yang dikasih kain lalu dibakar dan dilempar ke kantor-kantor pemerintahan, pembakaran ban di jalan, dan yang anehnya ketika ada Polisi lalu lintas dan pegawai kantor pemerintahan yang pulang kerja dan tidak ikut-ikutan dalam bentrokan ini dipukuli dan kendaraannya dihancurkan. Hati saya terasa sedih dengan keadaan ini.

Rasanya tidak adil bila saya hanya menyoroti dari satu sisi saja. Saya akan memberikan opini saya dari kedua belah pihak.

Dari sisi pemerintah, kebijakan menaikkan harga BBM merupakan atau keputusan yang tidak populer dan menyengsarakan rakyat kecil. Hal itu tidak bisa dihindari meskipun keputusan itu sudah disetujui oleh DPR (dulu DPR setuju tapi sekarang tiba-tiba mereka pura-pura tidak setuju dan mengajukan hak angket…persiapan pemilu lah, cari popularitas) dan sudah memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Berbagai harga kebutuhan pokok naik. Tapi apakah pemerintah sebelum menaikkan BBM sudah mencoba alternatif lain?

Sebenarnya masih banyak cara selain menaikkan harga BBM. Salah satunya adalah Privatisasi Sumber Daya Alam oleh Negara. Selama ini Indonesia terlalu banyak menyerahkan pengelolaan migas kepada pihak asing. Seandainya sektor ini dipegang oleh Negara 100% maka dengan banyaknya sumber daya minyak di Indonesia maka seharusnya Indonesia akan senang, bahagia dan mengambil banyak keuntungan dari naiknya harga minyak dunia. Mungkin pemerintah sudah coba…saya tidak tahu. Tapi kalau memang sudah dicoba dan gagal memang repot. Pemerintah dihadapkan pada kondisi mempertahankan harga minyak di Indonesia dengan menambah subsidi dan tentu saja akan menambah hutang negara dan rakyatnya atau kah mengurangi subsidi BBM agar hutang negara tidak terus bertambah. Saya yakin mereka dan Anda lebih tahu itu daripada saya yang kemampuannya adalah di bidang Komputer dan Jaringan.

Dari segi rekan-rekan mahasiswa yang berdemo, SAYA MENDUKUNG ANDA 100%. Suarakan suara rakyat, suarakan derita rakyat. Tapi saya sama sekali tidak mendukung aksi kekerasan yang terjadi saat ini. Karena tindakan itu tidak mencerminkan suara rakyat. Banyak rekan-rekan mahasiswa dari BEM seluruh Indonesia demo secara damai, teratur, aspiratif dan semua berjalan dengan lancar. Saya salut dan memberikan acungan jempol kepada anda para mahasiswa yang berdemo dengan damai. Andalah masa depan bangsa ini.

Polisi, tentara, masyarakat, mahasiswa bahkan pemerintah SBY JK sebenarnya adalah korban. Mengapa demikian? Ketika polisi dihadapkan pada tugasnya untuk menjaga keamanan, stabilitas negara, menjaga aset-aset pemerintah dihadapkan pada pendemo yang terus merangsek masuk dan mulai bertindak anarkis maka polisi terjepit pada dua kepentingan. Pertama, kalau mereka membiarkan masa yang emosinya meluap-luap masuk ke dalam maka mereka kawatir terjadi perusakan tapi kalau polisi bertahan terus tanpa ada perlawanan maka mereka akan menjadi sansak hidup yang menutupi pagar. Begitu juga dengan Tentara. Sementara masyarakat dan mahasiswa mereka memiliki kepentingan untuk menyampaikan suara dan aspirasi mereka demi bertahan hidup. Bila anggota dewan dan staf pemerintah tidak mau menemui dan menampung aspirasi mereka maka emosi mereka menjadi tidak stabil dan mudah terpancing. Mereka adalah korban. Sementara Pemerintahan SBY JK mengapa saya katakan adalah korban karena mereka mewarisi masalah-masalah dari pemerintahan sebelumnya.

Pada saat pemerintahan presiden-presiden sebelumnya mereka mengadakan perjanjian dengan pihak asing untuk pengolahan kekayaan alam Indonesia. Dan tentunya kontrak tersebut dalam jangka panjang dan bila pemerintahan sekarang tiba-tiba memutuskan kontrak tersebut secara sepihak maka Nama Baik dan Kredibilitas Bangsa di mata Internasional akan hancur. Pada pemerintahan presiden-presiden sebelumnya mereka berusaha menahan kenaikan harga BBM adalah dengan menambah hutang negara ke pihak asing. Kita sudah sering dengar beritanya. Hingga bayi yang baru lahir saja di Indonesia ini sudah punya hutang. Bila pemerintahan SBY JK ingin mempertahankan harga BBM maka mereka harus menambah hutang yang tentu saja hutang-hutang tersebut kitalah yang akan membayarnya.

Mungkin dari rekan-rekan blogger dan Anda yang secara sengaja maupun tidak sengaja mampir ke rumah saya ini bisa memberikan saran maka silahkan tuangkan saran-saran Anda dengan sopan dan arif. Mungkin saran-saran Anda bisa sampai kepada pemerintah dan dilaksanakan. Terimakasih.

4 Juli, 2008 - Ditulis oleh tegtitan | News | | Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar