Ketika NKRI tinggal nama
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara yang terbentang dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari berbagai macam pulau, suku, ras, agama dan kebudayaan. Negara Indonesia terbentuk dengan persatuan dari orang-orang yang berbeda latar belakang Suku, Agama, Ras dan Adat Istiadat. Indonesia merupakan sebuah negara yang kompleks, penuh dengan fariasi. Hal inilah yang menjadikan Negara Indonesia oleh nenek moyang kita dibentuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk Negara yang diharapkan oleh para pendahulu kita sebagai bentuk yang paling relevan untuk Indonesia. Tidak ada mayoritas dan tidak ada minoritas. Semua hidup bersama dan saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Sungguh semangat yang mulia. Tapi apakah semangan para pendahulu kita ini masih bisa bertahan hingga sekarang?
Saat ini muncul berbagai gerakan yang ingin mengingkari itu semua. Berbagai macam aksi dibuat untuk menjadikan Indonesia hanyalah milik dari salah satu golongan. Sementara generasi muda yang ingin mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia kekuatannya tidak berimbang dengan yang ingin meruntuhkan Negara Kesatuan ini. Yang lebih menyedihkan adalah lebih banyak lagi yang abstain (tidak memilih yang mana-mana). Ada apa dengan Indonesia?
Banyak produk-produk peraturan yang muncul di Indonesia ini bukanlah untuk seluruh rakyat Indonesia. Kenapa bisa terjadi seperti ini? Kelompok Mayoritas dan Minoritas yang dulu oleh Pendahulu kita berusaha untuk dihapuskan, berusaha untuk ditiadakan agar semua diperlakukan sama dalam payung hukum Indonesia ternyata saat ini justru semakin besar dan marak.
Belum ada komentar.
Lahir di kota kecil tapi terkenal ke seluruh dunia merupakan kebanggaan tersendiri buat saya. Tiga presiden RI berkaitan dengan kota ini. Mulai dari Presiden Pertama RI Bpk. Soekarno, kemudian Ibu Megawati hingga Bpk. SBY memiliki ikatan kasih dengannya. Blitar, kota kecil di Jawa Timur menjadi saksi hari pertama saya menghirup udara dunia.


